Kenali Karakteristik Kayu Jabon Sebelum Menggunakannya
Karakteristik kayu jabon - Belakangan ini kayu jabon mulai banyak diminati untuk kebutuhan konstruksi dan furniture.
Hal itu bukan tanpa alasan, karena pertumbuhan pohon jabon yang cepat sehingga harganya relatif terjangkau.
Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya lagi mengenai karakteristik kayu jabon, yuk simak langsung ulasannya di bawah ini.
4 Karakteristik Kayu Jabon
1. Memiliki Bobot Ringan
Memang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa bobotnya yang ringan menjadi salah satu ciri khas dari kayu jabon.
Ya, sebab kayu ini termasuk kedalam kategori tipe kayu ringan dengan tingkat kerapatan yang relatif rendah.
Secara visual, kayu jabon mengusung warna putting kekuningan atau krem pucat dengan pola serat berbentuk lurus.
Mengingat tidak terlalu padat, kayu jabon sangat mudah dipotong, diserut, dibor, dan dipaku.
Sehingga kayu jabon sangat ideal digunakan untuk kebutuhan konstruksi ringan, seperti rangka sementara, peti kemas, dan bahan dasar plywood atau veneer.
Pada industri furniture, kayu jabon biasa dimanfaatkan sebagai material inti yang akan dilapisi dengan finishing maupun veneer agar tampilannya lebih menarik.
Dikarenakan bobotnya yang ringan, kayu jabon tidak ideal digunakan untuk struktur yang memerlukan daya tahan terhadap beban berat dalam jangka panjang.
Baca juga: Karakteristik Kayu Bengkirai
2. Proses Pertumbuhan yang Cepat
Seperti yang sudah disebutkan pada ulasan diatas tadi, bahwa pertumbuhan pohon jabon yang cepat membuat harganya relatif terjangkau.
Dalam kurun waktu sekitar 5 - 7 tahun saja, pohon jabon sudah dapat dipanen dengan diameter batang yang cukup besar.
Hal tersebut sangat berbeda dengan jenis kayu keras seperti ulin atau merbau yang usia panennya bisa memakan waktu hingga puluhan tahun.
Bahkan, pohon jabon juga kerap dimanfaatkan untuk program penghijauan serta tanaman industri karena bisa tumbuh di berbagai jenis tanah.
Disisi lain, pohon jaon memiliki tajuk lebar sehingga sangat membantu dalam penyerapan karbon sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Untuk pelaku industri kayu, siklus panen yang singkat tentu memberi keuntungan ekonomi karena perputaran modalnya menjadi lebih cepat.
3. Tingkat Ketahanan yang Rendah
Dari segi ketahanan, kayu jabon memang tidak bisa diandalkan. Ya, sebab tingkat keawetannya termasuk kedalam kelas rendah dan sedang.
Itu artinya, kayu jabon yang tanpa diberi lapisan pelindung sangat mudah terkena serangan rayap, jamur, dan kelembapan tinggi.
Adapun struktur seratnya yang lunak serta pori-pori terbuka, sehingga membuatnya mudah untuk menyerap air.
Apabila digunakan di area outdoor maupun ruangan lembab, kayu jabon sangat berpotensi mengalami pelapukan hingga perubahan bentuk.
Agar terhindar dari permasalahan tersebut, biasanya kayu jabon akan diberi treatment pengawetan dengan menggunakan ahan kimia tertentu.
Atau, bisa juga dengan cara dikeringkan melalui proses kiln drying untuk mengurangi kadar air didalamnya.
Dengan perlakuan yang tepat, maka daya tahannya jauh lebih baik dan stabil.
4. Harga yang Terjangkau
Menurut informasi yang didapat, harga kayu jabon per meter kubik berada dikisaran Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta tergantung usia kayu dan kualitasnya.
Kayu jabon dari pohon yang berusia 4-5 tahun biasanya dibanderol dengan harga Rp 700 ribu - Rp 800 ribuan per meter kubik, sedangkan yang usia diatas 5 tahun bisa mendekati harga Rp 1 jutaan.
Adapun pembelian dalam bentuk log atau batang, maka harga jualnya akan dipengaruhi diameter kayu.
Baca juga: Harga Kayu Ulin
Kayu jabon dengan diameter kecil dibanderol sekitar Rp 450 ribu per batang, sedangkan diameter besar harganya bisa mencapai Rp 900 ribuan per batang.
Namun perlu diingat, bahwa harga kayu jabon bisa berubah yang bedasarkan lokasi, biaya angkut, dan permintaan pasar.
Nah, itu dia ulasan singkat mengenai seluk beluk kayu jabon, sehingga bisa anda jadikan sebagai bahan penambah wawasan.




